Business By A Heart, Masih Adakah ???

posted in: Admin, KKS, KKS WiBar, KKS WiSel, KKS WiTar, KKS WiTim | 0

Dunia bisnis belakangan ini hiruk-pikuk dengan berbagai tawaran dan propaganda untuk meraih konsumen atau nasabah,  termasuk cara-cara cerdas memberikan informasi dan layanan terbaiknya kepada calon konsumen/nasabah melalui teknologi elektronik yang ujung-ujungnya adalah untuk meraih profit, secara maksimal. Di samping itu, bagian customer service juga rajin menyapa para nasabahnya, agar nasabah senantiasa terus aktif dan tidak tertinggal informasi dari perusahaan. Pihak perusahaan tahu persis karakteristik para nasabahnya, sehingga harus menginformasikan berapa besar profit perusahaan, penghargaan-perhargaan yang diterima, jangkauan pemasaran, produk layanan terbarunya, secara rutin mengirim informasi perkembangan uang nasabah yang ditabung/ diinvestasikan (perusahaan asuransi, terutama yang menjual produk unit-link), dll.

Business by a heart, bisnis dengan hati nurani. Kalimat ini adalah icon dan jargon milik Credit Union (CU) seperti KKS yang kita cintai ini. Di negara kita terdapat 3 (tiga)  roda penggerak perekonomian, yaitu perusahaan milik negara (BUMN dan BUMD), perusahaan swasta (private),  dan Koperasi, antara lain CU kita ini, sebut saja KKS,  yang oleh undang-undang perkoperasian No. 25/1992 dikategorikan sebagai Badan Usaha dalam bentuk Koperasi Simpan-Pinjam (KSP). KKS sebuah Badan Usaha tetapi hanya berbisnis dengan anggota saja;  karena anggota selain pemilik KKS juga sebagai nasabah atau pengguna jasa. Dari anggota, oleh anggota dan untuk anggota.

Apakah KKS melakukan bisnis? Jawabnya pasti YA,  tetapi berbisnis dengan anggota, dalam bentuk layanan simpan-pinjam. Anggota adalah para pemegang saham  (simpanan pokok dan simpanan wajib atau simpanan kapitalisasi bila dibutuhkan). KKS berpegang teguh kepada bisnis dengan hati nurani, business by a heart,  kalimat ini bukan asal ngarang, tetapi ini diajarkan oleh para pendiri Credit Union di muka bumi ini, dengan meditasi dan penuh penghayatan, yang merupakan komunikasi antara manusia dengan Tuhan.

Kita mengejawantahkan/mengimplementasikan business by a heart dalam PRIMA :

P = patuh terhadap 5 (lima/panca) pilar dalam GKKI  (Gerakan Koperasi Kredit Indonesia) yaitu pendidikan,  swadaya, solidaritas, inovasi dan persatuan dalam keberagaman.

R = rendah hati (humble) dan jujur dalam memberikan pelayanan satu sama lain, bukan saja pengurus, pengawas dan karyawan saja yang harus rendah hati, tetapi semua dari kita harus saling rendah hati, saling melayani. Tidak ada yang superior dalam hal ini, tetapi mau saling mendengarkan, mau mengerti satu sama lain dan berempati.

I = integritas dan ikhlas dalam menjalankan tugas dan memberikan layanan satu sama lain dengan kasih,  sehingga saling melengkapi, bukan saling menghalangi, bukan saling mau menang sendiri.  Bukankah kita diajarkan agar win-win solution? Dan bukan i win you loose, atau sebaliknya.

M = meraih kesejahteraan bersama, bukan hanya pengurus, pengawas dan karyawan yang harus sejahtera, melainkan seluruh anggota harus menjadi sejahtera.

A = anggota sejati tujuan utama, sehingga masing-masing dari kita semua tahu bagaimana memenuhi kewajiban dan tahu apa yang menjadi hak,  yang pada akhirnya membawa kita semua menjadi sejahtera.

Dari kelima nilai tersebut di atas, sulitkah untuk kita lakukan? Kita tidak akan mampu mengelola orang lain dengan baik, kalau kita sendiri tidak mampu mengelola diri kita sendiri dengan baik. Manusia adalah makhluk sosial, yang saling membutuhkan, saling ketergantungan,  mempunyai akal dan budi. Hubungan antar manusia inilah yang perlu dikelola dengan baik.  KKS hanya berbisnis dengan anggota, Credit Union (CU)  sangat berbeda dengan lembaga keuangan yang lain,  yang profit oriented semata. CU tidak semata-mata berorientasi pada laba (not profit oriented), juga bukan lembaga atau yayasan sosial (not for charity), tetapi lembaga layanan dan pemberdayaan kepada anggota-anggotanya (but for service and empowerment to the members). Layanan dan pemberdayaan kepada anggota inilah yang harus dilakukan dengan hati nurani.

Fenomena yang belakangan sering muncul secara umum dalam gerakan perkoperasian seiring dengan semakin banyaknya anggota, yang diiringi oleh banyaknya uang,  antara lain adalah :

  1. kita terlena mengelola diri kita sendiri, akibatnya
  2. muncul sifat saling curiga,
  3. transparansi dalam pengelolaan organisasi, dianggap menjadi abu-abu,
  4. kolektif kolegial dalam kepengurusan menjadi kabur,
  5. merasa paling berkuasa,
  6. merasa harus dinomor-satukan,
  7. tidak ingat lagi business by a heart,
  8. menggalang opini anggota dan bahkan masyarakat secara sepihak untuk menjatuhkan satu sama lain,
  9. bukan lagi membangun organisasi CU agar semakin kuat,
  10. tujuan kesejahteraan anggota, hanya menjadi “baju pembungkus ego pribadi, atau ego sektoral”
  11. banyak orang lalu RUMONGSO BISO (merasa bisa, merasa mampu, bahkan over confident, dan memandang rendah orang lain atau underestimate),
  12. dan bukan lagi BISO RUMONGSO (bisa sadar diri, atau mawas diri atas kekurangan dan kelemahan yang ada dalam dirinya).

Fenomena ini membuat kita semua prihatin. Perjalanan panjang GKKI yang kurang lebihnya 47 tahun ini, dan langkah tegap KKS yang telah 45 tahun, haruslah tetap terjaga dengan saling percaya, saling bantu secara bahu-membahu, kompak, solid, saling menghormati fungsi masing-masing (Pengurus, Pengawas, Manajemen dan Anggota), mengembangkan komunikasi yang baik & efektif ke segala arah. Janganlah hendaknya ada yang merasa menjadi super-power, atau sebaliknya ada merasa menjadi bagian yang terabaikan, dalam pengelolaan dan pengendalian organisasi CU. Semua orang adalah penting dalam CU, karena CU harus mampu memanusiakan manusia, menghargai setiap individu.

Asset utama CU adalah anggota, termasuk Pengurus dan Pengawas adalah bagian dari anggota. CU didirikan atas dasar member based dan bukan capital based,  sebagaimana badan usaha yang berupa perusahaan pada umumnya, dan inilah inti kekuatan CU, ada pada anggota. “Jangan pernah lukai hati anggota, jangan pernah kecewakan anggota” (pesan dari calon mantan Ketua Pengurus dalam RAT KKS di aula Bakosurtanal 2005).

Tidak ada permasalahan yang tidak bisa diselesaikan.  Pengurus dan Pengawas, adalah orang-orang terbaik yang dipilih dari antara anggota, oleh para anggota itu sendiri untuk menduduki tempat terhormat dan bergengsi  (menurut penilaian sempit oleh sebagian orang), padahal di tempat itulah sebenarnya “kursi panas” bagi mereka yang sungguh-sungguh punya ketulusan hati mau menyumbangkan ilmunya bagi orang lain. Masih ingatkah kalimat yang merupakan semangat pribadi (saya),  ber-ilmu amaliah dan ber-amal ilmiah? Kepada merekalah  (Pengurus dan Pangawas) seluruh anggota menggantungkan harapan-harapannya, kepada mereka pula para anggota mempercayakan sebagian dari hartanya agar saling mendatangkan manfaat.

Sementara di beberapa tempat, orang gerakan CU sudah mulai saling memperebutkan “posisi terhormat” tersebut,  dengan cara-cara yang kadang kurang/tidak etis. Malah tidak sedikit yang “menggunting dalam lipatan”, atau dengan cara membangun opini publik agar tercipta suasana mosi tidak percaya terhadap kepengurusan  (baca : pengurus dan pengawas). Hancurnya CU besar Klongchan (di Thailand) antara lain dimulai dari “gesekan-gesekan kecil” di antara Pengurus dan Pengawas, yang seharusnya tidak boleh terjadi, kalau kita masih mau berpegang kepada business by a heart,  membuka dialog atau komunikasi yang baik. Kadang  “mata kita mulai hijau” manakala melihat banyaknya tumpukan uang masuk, atau melihat saldo rekening Bank yang semakin menggunung, yang mestinya membuat kita waspada, karena banyaknya uang tidak beredar di anggota tetapi malah berada di Bank, itu mengindikasikan bahwa kita belum maksimal mengelola uang milik anggota, dan harus diwaspadai sebagai ancaman terhadap organisasi.

Dalam pemerintahan kita pernah ada istilah GBHN  (Garis-garis Besar Haluan Negara) yang dibuat 5 tahunan, dan dievaluasi bahkan direvisi setiap tahun anggaran yang disesuaikan dengan kondisi perekonomian yang terus bergejolak. Sebagai contoh tahun 1962, ternyata master plan jalan berbayar (toll)  Bocimi (Bogor, Ciawi, Sukabumi) sudah dibuat oleh Pemerintah terdahulu, namun setelah 50 tahun baru mulai dikerjakan.

Pada umumnya setiap CU juga memiliki Renstra (rencana dan strategi) dan Road Map jangka pendek, menengah dan jangka panjang, yang juga harus selalu dievaluasi setiap tahun, dengan antara lain menggunakan metoda 5 wives 1 husband (5 W dan 1 H).

Ada muncul istilah “dinosaurus” yang sulit dikalahkan,  apakah kita sedang bertanding di atas ring tinju? Ataukah kita sedang bertanding kungfu di arena pibu? Dan munculnya kembali istilah “small is beautiful” yang telah lama kita tanggalkan dan kita ganti dengan “big and beautiful”. Istilah ini saya (penulis) dapatkan justru dari sumber lain yang tidak ada kaitannya dengan KKS. How come? Dimana jiwa corsa kita? Bahkan muncul istilah lain  “ada duri”. Salah seorang perintis dan pendiri KKS (dulu namanya CU Sejahtera) mengatakan, AKU MAU, AKU MAMPU, AKU BER-EMPATI.

AKU MAU, artinya bahwa datang bergabung dengan KKS, dengan segala niat dan konsekuensi, mau kerjasama dalam tim, mau menghormati orang lain, mau secara bersama-sama mengupayakan kesejahteraan bersama bagi anggota, mau mengorbankan sebagian waktunya untuk KKS, dan mau-mau yang lain yang bersifat positif, dan bukan mau-mau yang bersifat negatif.

AKU MAMPU, maksudnya orang yang mau belajar, akan menjadi pandai, orang yang mau pelatihan, akan menjadi terampil. Agar kita semakin mampu mengelola diri sendiri,  semakin mampu mengelola hubungan yang baik dengan orang lain, dan mampu-mampu yang lain, yang bersifat positif. Ilmu akademis lebih mudah dipelajari, tetapi ilmu mengelola diri sendiri itu jauh lebih sulit. Mengalahkan orang lain, itu jauh lebih mudah daripada mengalahkan diri sendiri. Di sinilah kita belajar dan terus berlatih mengalahkan diri kita sendiri.  Musuh kita bukan “dinosaurus” atau binatang purba itu,  musuh kita yang sebenarnya ada dalam diri kita sendiri.  Percaya atau tidak, diri kita sendiri yang bisa menjawab.

MAU BER-EMPATI. Bukan hanya bisa ikut merasakan kebahagiaan atau kegembiraan, namun juga harus bisa merasakan kepedihan, kesulitan,  kemalangan orang lain. Jiwa corsa akan terbangun kalau kita bisa ber-empati pada orang lain. Jiwa corsa sangat terbangun di kalangan militer, saling bantu, saling bela,  saling melindungi, dan bukan saling menjatuhkan atau malah saling serang.

Apakah setia-kawan dan kerjasama semacam ini sudah luntur di kalangan aktivis CU, khususnya di KKS sendiri?  Semoga tidak terjadi ! Semoga tidak terjadi !! Semoga tidak terjadi !!! Apakah yang terjadi sekarang ini hanya sama-sama kerja? Tanpa kordinasi dan komunikasi yang baik dan efektif?

Bicara soal “ada duri”. Setiap orang berhak berpendapat,  berhak menilai orang lain. Menilai orang lain, bukan merupakan perbuatan yang salah. Dan bagi yang dinilai negatif ya harap tidak langsung apriori dan alergi terhadap kritik. Kita tidak akan alergi kalau kita mampu mengelola tingkat emosional (emotional quotient/EQ) kita dengan baik, sebaliknya, kita juga hendaklah mampu terlebih dahulu menilai diri kita sendiri dengan jujur,  sebelum menilai orang lain, dan lebih baik lagi kalau kita mampu mengelola SQ (spiritual quotient) kita juga dengan baik. Ada sepenggal lirik lagu dari Ebiet G Ade,  yang dapat kita jadikan renungan : “Kita mesti telanjang,  dan benar-benar bersih, suci lahir dan di dalam batin…tengoklah ke dalam sebelum bicara, singkirkan debu yang masih melekat, singkirkan debu yang masih melekat …”

Ebiet G Ade menulis lirik apa adanya, agar mudah dicerna bagi yang mendengarnya. Kalau kita bicara tentang “duri” dalam KKS, sebaiknya kita gali akar permasalahannya apa, masalah yang paling mendasar itu apa. Kita dapat gunakan alat analisis yang namanya SWOT (Strength,  Weakness, Opportunity, Thread) ini analisisnya orang yang berfikir optimis. Bagi orang yang berfikir pesimis,  menjadi sebaliknya, TOWS. Ini juga dapat kita gunakan untuk menilai diri sendiri asal dengan jujur sehingga menjadi SWOTH (H = Honesty). Iri dan dengki adalah sifat sisi gelap manusia.

Analoginya adalah, tulang ikan yang nyangkut di kerongkongan, ditelan tidak bisa, dikeluarkan juga sulit,  kalau sudah parah, mau tidak mau harus ada tindakan operasi oleh dokter bedah.  Kalau tidak dilakukan operasi, yang pasti selalu mengeluh sakit bila harus menelan makanan, karena tidak ada jalur alternatif untuk mengirim makanan ke dalam perut, selain selang infus. Apabila keputusannya harus dilakukan tindakan medis atau operasi, diberedel kerongkongannya, yang pasti sakit beberapa saat, ada pengeluaran biaya ekstra, tetapi ada alternatif sembuh serta dapat menikmati kembali lezatnya makanan.  Pilihan di tangan kita sendiri.

Topik persoalannya adalah, di bagian mana letak duri atau tulang ikan tersebut berada, apakah benar-benar duri?  Atau benda asing lain yang menyerupai duri, paku atau kawat misalnya? Oleh karena itu, hendaklah kita jangan menjadi “jaksa” atau “polisi” bagi orang lain, tetapi jadilah  “jaksa” dan “polisi” bagi diri kita masing-masing terlebih dahulu, agar mata, pikiran dan hati kita dapat melihat persoalan dengan bening. Sehingga business by a heart dalam Credit Union masih relevan dan dapat kita pergunakan sebagai perekat di antara kita

semua.

Kalau dokter bedah, sebelum melakukan keputusan operasi, akan melakukan pra operasi dengan USG (ultra sonografi), untuk mengetahui jenis benda asing dalam kerongkongan pasien, bentuk dan ukuran, tingkat kesulitan, tindakan, dan kondisi pasien sendiri stabil atau tidak dll.

Kita bisnis YA, tetapi dengan hati nurani, itulah uniknya di CU. Credit, credere, credo, aku percaya, ini yang mendasari lahirnya CU, yang kita pegang teguh sampai sekarang. Bisnis di KKS hanya dengan anggota-anggotanya saja. Jangan ada hidden agenda.  Ingat istilah jendela Jo & Harry (lebih populer dengan istilah jendela Johari). Dalam jendela Johari, memang ada sisi lain yang orang lain tidak tahu, tetapi dalam mengelola CU yang baik dan benar, adalah saya tahu,  anda tahu, dan kita tahu. Tidak ada sisi gelap yang tidak terbuka, yang orang lain tidak tahu.

Sebagaimana kita ketahui sebagai contoh saja, ada koperasi simpan pinjam (KSP), yang berbisnis bukan hanya dengan anggota, melainkan berbisnis juga dengan non anggota, yang telah menguntungkan banyak pihak,  dan juga merugikan banyak orang bahkan sampai membuat orang melakukan tindakan bunuh diri.

Disinyalir, di kalangan CU ada istilah “koperasi dalam koperasi”, yang justru melayani non anggota jauh lebih besar daripada melayani anggota. Jumlah non anggota yang jumlahnya lebih besar tersebut, digunakan istilah  “calon” anggota, walau sebagai calon anggota sudah tahunan, tetapi belum terdaftar sebagai anggota, dan mendapat pelayanan pinjaman yang lebih istimewa, lebih cepat, lebih mudah, tidak pakai ribet, daripada pelayanan terhadap anggota sendiri. Hal ini jangan sampai terjadi di KKS kita. Ini salah satu sisi gelap dari CU. Harap para praktisi, pegiat, pemerhati, dan para pemangku kepentingan (stake holder) mewaspadai akan hal ini.

Semoga tulisan ini dalam rangka peringatan 45 tahun KKS, bermanfaat bagi seluruh anggota, terlebih jajaran Pengurus dan Pengawas serta Manajemen. Kalau tidak bermanfaat silahkan dilupakan saja, anggap tulisan ini omong kosong belaka, kalau bermanfaat renungkan dan berdoalah dengan cara kita masing-masing, agar ‘KKS selangkah lebih maju dan tegar dalam persaingan’.  Semoga masih ada yang ingat kata-kata ini yang pernah dan sering saya ucapkan: “Saya bangga dengan KKS saat ini, tetapi saya belum puas.”(ch)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *